Larutan Penyangga : Teori, Sifat, Reaksi, Pembuatan

Hampir semua organisme (termasuk manusia), perlu untuk mempertahankan pH pada rentang tertentu yang tidak jauh untuk dapat bertahan hidup. Misalnya, darah manusia menjaga pH tepat di sekitar 7,4 dan menghindari pergeseran signifikan lebih tinggi atau lebih rendah serta agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung.

Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pHnya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Buffer terdiri dari asam lemah dan garam/basa konjugasinya atau basa lemah dan garam/asam konjugasinya.

Sangat banyak kegunaan larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari, karena fungsinya yang sangat penting. Salah satu contoh larutan buffer dalam kehidupan sehari-hari adalah buffer dalam darah seperti tadi disebutkan di awal, air ludah, buffer pada bidang industri farmasi, dan masih banyak lagi.

Larutan penyangga juga banyak digunakan dalam reaksi-reaksi kimia terutama dalam bidang kimia analitis, biokimia, bakteriologi, dan bidang kesehatan.  Dalam reaksi-reaksi kimia tersebut dibutuhkan PH yang stabil. Oleh karena itu, dibutuhkan larutan penyangga untuk mempertahankan PH suatu zat.
ilustrasi
source : pixabay


Teori Larutan Penyangga

Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat.

Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi di antara kedua komponen penyusun ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi.

Sifat Larutan Penyangga


Secara umum sifat Larutan Penyangga dapat dianggap menjadi tiga kelompok dilihat dari nilai pH yang dihasilkan

1. Larutan penyangga yang bersifat asam

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium (Na), kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Contoh yang biasa merupakan campuran asam etanoat dan natrium etanoat dalam larutan.

2. Larutan penyangga yang bersifat basa

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih. Seringkali yang digunakan sebagai contoh adalah campuran larutan amonia dan larutan amonium klorida.

3. Larutan penyangga yang bersifat netral atau lebih tepatnya pH 7

Larutan ini mempertahankan pH pada daerah pH 7, umumnya yang sering kita jumpai larutan buffer pH 7 adalah senyawa buffer fosfat. cara pembuatannya yaitu dengan menyiapkan senyawa mononatrium fosfat, dinatrium fosfat, air, lalu ada asam fosfor untuk menambah asam dan natrium hidroksida untuk menambah basa. Seringkali digunakan untuk standarisasi pH meter.

Reaksi - reaksi yang terjadi pada Buffer akan di segera di update pada postingan ini
Cara pembuatan Buffer secara lengkap juga akan segera di update pada postingan ini


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Larutan Penyangga : Teori, Sifat, Reaksi, Pembuatan"

  1. Sudah lupa pelajaran sekolah, jadi bingung dengan istilah-istilah kimia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, jangan dilupain lah, nanti kalo anaknya minta ditemenin belajar kimia gimana..hehe

      Hapus